antropologi ziarah
perbedaan motivasi antara perjalanan spiritual dan liburan biasa
Pernahkah teman-teman pulang dari sebuah liburan panjang, rebahan di kasur rumah, lalu bergumam pelan, "Kok saya malah butuh liburan lagi, ya?"
Kita baru saja menghabiskan uang tabungan. Kita sudah menginap di hotel yang nyaman. Kita sudah berfoto di berbagai tempat aesthetic yang sedang viral. Namun, anehnya, batin kita terasa kosong. Fisik kita lelah, dan pikiran kita tidak setitik pun menjadi lebih jernih.
Ini adalah fenomena psikologis modern yang sangat umum. Kita sibuk merencanakan itinerary, melompat dari satu kafe ke pantai lainnya, sibuk mengejar kesenangan. Namun, kita lupa pada satu tradisi perjalanan tertua dalam sejarah manusia. Sebuah tradisi yang tidak pernah menjanjikan kenyamanan, tetapi selalu menjanjikan transformasi.
Tradisi itu bernama ziarah. Dan mari kita bedah bersama, mengapa kakek buyut kita di masa lalu sering kali pulang dari perjalanan panjang mereka dengan mata yang lebih berbinar, dibandingkan kita yang baru pulang dari resor bintang lima.
Sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum ada koper beroda atau pesawat komersial, manusia sudah terobsesi untuk berjalan kaki ke tempat-tempat yang sangat jauh.
Ada yang berjalan membelah gurun menuju Makkah. Ada yang mendaki pegunungan Himalaya yang menembus awan. Ada pula yang menyusuri jalur debu sejauh ratusan kilometer di Camino de Santiago, Spanyol. Secara kasat mata, ini tampak seperti kegiatan religius semata. Namun, jika kita memakai kacamata antropologi, ini adalah insting dasar manusia.
Otak dan tubuh kita berevolusi tidak hanya untuk mencari makan dan tempat berlindung. Secara psikologis, kita memiliki dorongan bawaan untuk mencari makna. Liburan biasa, pada dasarnya, adalah pelarian. Kita lari dari rutinitas, kemacetan, dan bos yang menyebalkan.
Sebaliknya, ziarah bukanlah pelarian. Ziarah adalah perjalanan menuju sesuatu. Kita tidak pergi untuk melupakan masalah, melainkan untuk mengonfrontasi diri kita sendiri di tempat yang asing. Tapi, bagaimana tepatnya sebuah perjalanan yang melelahkan bisa menyembuhkan mental kita?
Di sinilah letak paradoksnya yang paling menarik. Coba kita pikirkan sejenak. Industri pariwisata modern mendesain liburan agar bebas dari rasa sakit. Semua harus serba mudah, instan, dan nyaman.
Namun, ziarah justru menjadikan "penderitaan" sebagai fitur utamanya, bukan kelemahan. Para peziarah tidur dengan fasilitas seadanya. Mereka membiarkan kaki mereka melepuh. Mereka memakan apa saja yang tersedia di jalan.
Mengapa otak manusia yang secara alami selalu menghindari rasa sakit, tiba-tiba malah mendambakan ketidaknyamanan ini? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam saraf-saraf kepala kita ketika kita rela menukar kasur empuk dengan jalanan yang berbatu? Dan apa bedanya hormon kebahagiaan yang kita dapatkan saat staycation dengan saat kita berjalan tertatih-tatih di jalur ziarah?
Jawabannya tersembunyi di balik sistem kimiawi otak kita dan sebuah konsep antropologi yang sangat elegan.
Saat kita pergi liburan biasa, otak kita dibanjiri oleh hormon kesenangan instan. Kita melihat pemandangan baru, kita makan enak, kita mendapat likes di media sosial. Ini memicu kebahagiaan hedonic. Rasanya sangat menyenangkan, tapi sayangnya, menguap dengan cepat begitu kita kembali melihat tumpukan email pekerjaan.
Ziarah bekerja di jalur yang sama sekali berbeda. Ia mengejar eudaimonic well-being, yaitu kebahagiaan yang berakar pada makna dan tujuan. Rasa sakit dan kelelahan fisik saat berziarah sebenarnya memicu otak melepaskan endorfin dalam jumlah besar untuk menahan nyeri. Efek sampingnya? Pikiran kita masuk ke gelombang yang sangat meditatif dan hening. Ego kita perlahan runtuh.
Seorang antropolog legendaris bernama Victor Turner menyebut fenomena ini sebagai liminality. Saat berziarah, kita masuk ke zona ambang batas. Kita bukan lagi seorang direktur, mahasiswa, atau warga kota yang terikat gengsi. Status sosial kita luntur.
Di jalur tersebut, semua orang menderita rasa pegal yang sama. Hal ini melahirkan apa yang Turner sebut sebagai communitas—rasa persaudaraan setara antar sesama manusia yang sama-sama rapuh. Kita tiba-tiba bisa menangis atau tertawa dengan orang asing yang baru kita kenal lima menit lalu. Inilah momen breakthrough psikologisnya. Kita tidak menemukan diri kita karena melihat pemandangan indah, kita menemukan diri kita karena kita dipaksa melepas semua topeng yang biasa kita pakai sehari-hari.
Tentu saja, teman-teman tidak harus mendadak membeli tiket ke Yerusalem, Makkah, atau Tibet besok pagi. Antropologi modern mengajarkan kita bahwa ziarah bukanlah soal destinasi geografis, melainkan tentang mindset atau cara pandang.
Kita bisa mengubah liburan kita berikutnya menjadi sebuah ziarah personal. Caranya? Berhentilah menjadikan kenyamanan sebagai satu-satunya tujuan. Cobalah berjalan kaki lebih jauh dari biasanya. Matikan peta digital dan izinkan diri kita tersesat sejenak. Berbicaralah dengan penduduk lokal tanpa ekspektasi apa-apa.
Liburan biasa memanjakan tubuh kita, tapi membuat jiwa kita tetap diam di tempat. Sementara ziarah, meski menghancurkan otot-otot kaki kita, akan membawa jiwa kita melangkah jauh melampaui batas yang pernah kita bayangkan. Jadi, ke mana kita akan berjalan akhir pekan ini?